Selang beberapa menit setelah mie dan kopiku siap hidang, aku beranjak menuju kamarku, namun aku terkesima karena di ruang tamu kulihat pemandangan yang jauh berbeda dengan rumus matematika yang sedang berputar di otakku.Yumul sedang merem-melek karena buah dadanya sedang dikulum Wadi. Bokep Sayup-sayup terdengar gemercik air siraman mandi Yumul, lalu senyap.Ketika keluarganya pulang dari undangan, aku sedang membersihkan keringat, bercak-bercak mani dan darah yang berserakan di lantai. Yumul berhenti sejenak, mengatupkan mulutnya rapat-rapat, sedikit menutup matanya. “Astaga, mereka bersengggama,” pikirku sambil menelan ludah dan mengusap keringat saking menghayati ketegangan adegan.Entah telah berapa puluh kali mereka saling menghunjam, tiba-tiba kudenggar Yumul berkata lirih, “Mas, kali ini dimasukkin beneran yach, jangan cuma dioles-oles.”“Kamu nggak takut,” tanya Wadi dan dijawab dengan gelengan kepala Yumul.“Nanti kamu nyesel,” tanya Wadi dan sekali lagi Yumul menggeleng sambil berkata, “Khan kata




















