Dipijat seperti ini lebih nikmat diam meresapi remasan, sentuhan kulitnya. Matanya dikerlingkan, bersamaan masuknya mobil lain di belakang angkot. Bokep Kantorku tidak lama lagi kelihatan di kelokan depan, kurang lebih 100 meter lagi. Lalu ngomong apa? Kalau kini aku berani pasti karena dadanya terbuka, pasti karena peluhnya yang membasahi leher, pasti karena aku terlalu terbuai lamunan. Kerjaan yang menumpuk sama merangsangnya dengan seorang wanita dewasa yang keringatan di lehernya, yang aroma tubuhnya tercium. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Tidak akan hadir kesempatan ketiga. Aku masih termangu. Ia tersenyum. Ia tersenyum ramah. Aku masih penasaran, ia seperti tanpa ekspresi.




















