Aku dan Ivan saling memandang penuh arti. Kamisolnya jadi agak turun hingga belahan buah dadanya kelihatan jelas. Bokep Arahin dong..!” pintanya. Lampu sorot dan pemandangan tubuh Lia membuatku dan Ivan berkeringat. Melihat adegan tersebut, aku jadi sirik. Aku dikocok-kocoknya dengan gencar, sementara lidahnya menelusuri rongga mulutku dengan penuh nafsu. “Please.., jangan potretin lagi deh..!” pinta Lia. Dia tersenyum. Dari botol-botol sampai kereta api, nenek-nenek, orang lalu lalang, gelandangan, pokoknya apapun menjadi sasaran kameraku, kecuali satu. Ganas juga cewek ini, dalam hati. “Posenya gimana..?”
“Terserah loe, make it relax..!”
Kemudian Lia duduk dengan manis di atas sofa, kedua kakinya dirapatkan, aku dapat melihat pada saat ia duduk rok mininya agak ketarik ke atas. Aku memang minta dicarikan cewek cakep yang dapat dijadikan model untuk latihan fotografi, waktu itu aku lagi hobi berat kegiatan potret memotret.Sejak aku dibelikan




















