Aroma air mani segar yang tumpah di bajuku mungkin yang menarik perhatian mereka. “Masukin, Pak … Masukin …. Bokep Enak sekali …. Shhhhh …. Mungkin Mak yang menyellimuti aku tadi. Asyik sekali yang barusan itu ….” kata Pak Kusri sambil kembali mengenakan pakaiannya. Setelah tidak ada benang sehelai pun yang menempel di kulitku, Pak Kusrin meminta aku duduk di pinggir meja batu besar. Aku tersentak. Entah aku dapat ide dari mana untuk mengarang cerita bohong itu. Air mataku berlinang. “Kocok yang cepat, Pak … Lebih cepat, lebih cepat …. Aku mempercepat gerakkanku karena kau merasa sudah hampir mencapai klimaks.




















